TUGAS KELOMPOK MPMPAI 2 “Merencanakan Evaluasi dan Penilaian Pembelajaran Al-Qur’an Hadist dan SKI MI”

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembelajaran adalah kegiatan yang sengaja (sadar) dilakukan oleh peserta didik dengan arahan, bimbingan atau bantuan dari pendidik (guru) untuk memperoleh suatu perubahan. Perubahan yang diharapkan meliputi : aspek afektif, (sikap dan tingkah laku ) dan psikomoterik ( gerakan ragawi / keterampilan ).
Perubahan yang diharapkan itu yang dinamakan dengan kompetensi (kemampuan melakukan sesuatu), dengan melalui tujuan pembelajaran( dulu tujuan instruksional sekarang kompeesi). Mulai dari kompetensi dasar, kompetensi mata pelajaran, kompetensi lintas disiplin, dan kompetensi lulusan yang dalam GBPP kemudian dijabarkan menjadi beberapa indikator kompetensi (dimuat) dalam Satuan Acara Pembelajaran (SAP)
Untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran dan tingkat keberhasilan suatu program pendidikan , pengajaran dan pembelajaran yang dicapai oleh peserta didik dapat diperoleh melalui evaluasi dan penilaian suatu pembelajaran.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan suatu masalah, yaitu:
Apakah pengertian evaluasi dan penilaian dalam pembelajaran?
Apakah fungsi, tujuan dan jenis-jenis evaluasi dalam proses belajar mengajar Al-Qur’an Hadits dan SKI MI?
Bagaimana merencanakan evaluasi pembelajaran Al- Qur’an Hadits dan SKI MI?
Tujuan
Mengetahui pengertian evaluasi dan penilaian dalam pembelajaran.
Mengetahui fungsi, tujuan dan jenis-jenis evaluasi dalam proses belajar mengajar Al-Qur’an Hadits dan SKI MI.
Mengetahui bagaimana merencanakan evaluasi pembelajaran Al- Qur’an hadits dan SKI MI.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Evaluasi dan Penilaian dalam Pembelajaran
Secara etimologis kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian terhadap sesuatu. Witherington secara singkat merumuskan bahwa an evaluation is a declaration that something has or does not have value (Administrasi Pendidikan,1997,10:22 ). Berdasarkan kutipan tersebut maka jelaslah bahwa mengevaluasi berarti membeli nilai, menetapkan apakah sesuatu bernilai atau tidak bernilai.
Evaluasi dalam arti luas adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat keputusan ( Mehrens & Lehmann, 1978:5 ). Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi pembelajaran, antara lain:
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan.
Dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut obyek yang sedang dievaluasi.
Setiap kegiatan evaluasi khususnya evaluasi pembelajaran Alquran-Hadits dan SKI tidak lepas dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai.
Dalam penyusunan program pembelajaran ketiga komponen tersebut tidak dapat diabaikan, bahkan harus selalu digunakan sebagai acuan.
penilaian adalah penggunaan sistem evaluasi yang bersifat komprehensif (menyeluruh) untuk menentukan kualitas dari suatu program atau kemajuan dari seorang anak. Penilaian secara umum dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar, pertumbuhan serta perkembangan sikap dan perilaku yang dicapai siswa.

Fungsi Evaluasi dalam Proses Belajar Mengajar Al Qur’an Hadits dan SKI MI
Fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi, yaitu:
Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Untuk mengetahui keberhasilan program pengajaran.
Untuk mengetahui tepat atau tidaknya pendidik dalam memilih bahan, metode, dan berbagai, penyesuaian dalam kelas.
Demikian betapa peranan dan fungsi evaluasi bagi pengembangan dan perbaikan kurikulum. Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian, antara lain:
Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
Penilaian menggunakan kriteria, yaitu berdasarkan apa yang dilakukan peserta didik setelah proses pembelajaran.
Sistem yang dilakukan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, yang berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran.

C. Tujuan evaluasi dalam pembelajaran Al Qur’an-Hadits dan SKI MI
Tujuan evaluasi pembelajaran Alquran-Hadits antara lain:
Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki program satuan pembelajaran.
Menentukan hasil kemajuan belajar siswa.
Menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat.
Mengenal latar belakang psikologis, fisik, dan lingkungan siswa.
Secara umum penilaian pembelajaran SKI dapat dikelompokkan ke dalam tiga hal utama, yaitu manajerial, komunikasi, dan pedagogi. Ditinjau dari segi manajerial, penilaian SKI bertujuan untuk:
Menguji efektif tidaknya kebijakan pemerintah.
Menjamin akuntabilitas sekolah.
Memotivasi guru.
Menyeleksi peserta didik.
Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat.
Mengendalikan kurikulum.
Ditinjau dari segi komunikasi, penilaian SKI bertujuan untuk:
Menyediakan informasi kepada orang tua tentang kemajuan peserta didik.
Menyediakan informasi ke guru, institusi pendidikan tentang pengetahuan dan kemampuan peserta didik.
Menyediakan informasi tentang sekolah yang dapat dipilih oleh peserta didik.
Menyediakan informasi kepada guru maupun peserta didik tentang bagian-bagian kurikulum yang belum dikuasai dan harus diulang.

Ditinjau dari segi pedagogi, penilaian bertujuan untuk:
Mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran.
Menganalisis keberhasilan peserta didik dan mengidentifikasi kemungkinan kesalahan konsep.
Menyajikan umpan balik bagi guru sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan program pembelajaran.
Memotivasi belajar peserta didik dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan.
Menyajikan informasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik.
Mendiagnosis kesulitan belajar.
Menentukan kenaikan kelas.
Mengetahui ketercapaian mutu pendidikan secara umum.

Jenis-jenis Evaluasi dalam pembelajaran Al-quran Hadits dan SKI MI
Jenis-jenis evaluasi dapat digolongkan sebagai berikut:
Penilaian formatif, yaitu penilaian yang dilakukan pada setiap akhir pembelajaran.
Penilaian sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan tiap semester.
Penilaian penempatan, berfungsi untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat.
Penilaian diagnose, berfungsi untuk memecahkan masalah atau kesulitan belajar siswa.

Merencanakan Evaluasi
Dalam merencanakan evaluasi, pertama kali yang harus menjadi titik perhatian adalah bahwa cara dan alat evaluasi itu ditentukan oleh isi TIK (tujuan instruksional khusus). TIK yang dirumuskan dengan benar pasti dapat menunjukkan cara dan alat evaluasi yang efektif dan efisien. TIK itu berisi salah satu dari tiga kemungkinan: mengenai pemahaman (kognitif), penerimaan (sikap, afektif), dan keterampilan (psikomotor). Karena itu tesnya pun harus sesuai dengan isi itu: tes pengetahuan, tes sikap dengan skala sikap, tes keterampilan dengan tes tindakan (performance test).
Hal lain yang harus diperhatikan ialah luasnya tujuan (bahan) yang akan dievaluasi ada bermacam-macam. Tes untuk mengukur berapa banyak atau berapa persen tujuan dicapai setelah setiap kali mengajar adalah tes yang paling sempit cakupannya. Tes ini disebut dengan istilah posttest atau tes akhir.
Kegunaan tes ini terutama ialah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memperbaiki lesson plan. Dalam hal ini hasil tes tersebut dijadikan umpan balik (feedback ) dalam meningkatkan mutu pengajaran. Patokan yang digunakan adalah bila nilai yang diperoleh siswa paling rendah rata-rata 75 dan tidak ada siswa yang memperoleh nilai di bawah 60, maka lesson plan itu dianggap tidak perlu direvisi.
Kadang-kadang pelaksanaan posttest memerlukan waktu yang cukup banyak. Karena itu secara keseluruhan tes tersebut akan terlalu banyak menggunakan waktu. Bila program akan terganggu karena itu, maka posttest tidak usah ditujukan kepada seluruh siswa. Posttest dapat ditujukan kepada sebagian siswa saja sebagai sample dengan teknik rondom . Dari tes terhadap sampel ini kita akan memperoleh nilai rata-rata yang diperoleh siswa. Angka rata-rata ini hanya digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan lesson plan.
Penilaian yang pasti digunakan untuk angka rapor ialah tes akhir bulan, yang mencakup bahan yang agak luas, kira-kira isi empat lesson plan. Tes ini ( juga tes harian ) disebut tes formatif. Sama dengan tes lainnya tes ini ditujukan kepada seluruh daerah binaan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.
Penilaian yang cakupannya lebih luas adalah tes sumatif. Tes ini mengukur penguasaan bahan pengajaran sejak awal kurikulum yang bersangkutan sampai dengan pengajaran terakhir yang dipelajari. Misalnya, siswa kita kelas III MI akhir tahun, maka bahan tesnya adalah bagian-bagian penting bahan pelajaran kelas I, II, dan III. Ujian akhir kelas VI MI bahannya adalah bagian penting pengajaran kelas I sampai dengan kelas VI. Pada tes sumatif daerah pengujian biasanya hanya mencakup aspek kognitif dan afektif; tes ditujukan kepada seluruh siswa, bukan kepada sampel. Nilai akhir ditentukan dengan cara menjumlahkan rata-rata nilai tes formatif (bulanan) ditambah dengan nilai tes sumatif kemudian dibagi dua atau (Mf+S):2. Mf adalah rata-rata tes formatif; S adalah nilai sumatif.
Nilai akhir ini digunakan untuk mengisi rapor, nilai kenaikan kelas, atau digunakan untuk nilai dalam ijazah.
Bila nilai dari posttest ikut digunakan dalam menentukan nilai akhir maka nilai yang diambil adalah nilai harian individu, dengan menggunakan operasi sebagai berikut: Nilai rata-rata harian ditambah dengan rata-rata formatif , lalu dibagi dua atau
((Mp+Mf):2+S)/2
Mp adalah rata-rata posttest
Mf adalah rata-rata tes formatif
S adalah tes sumatif
Konsep utama dalam hal evaluasi adalah bahwa evaluasi haruslah terus menerus dan menyeluruh. Terus menerus diterapkan dalam bentuk menyelenggarakan tes harian (posttest), tes bulanan (formatif), dan tes akhir program (tes sumatif); menyeluruh diterapkan dengan menyelenggarakan pengetesan yang ditujukan kepada seluruh daerah binaan (kognitif, afektif, dan psikomotor); psikomotor itu mencakup aspek keterampilan melakukan dan melakukannya dalam kehidupan (pengalaman). Jadi pengalaman itu termasuk daerah psikomotor; namun dapat juga merupakan bagian dari aspek afektif, bahkan dapat pula termasuk cakupan aspek kognitif. Termasuk bagian manapun aspek pengalaman itu, yang sudah pasti aspek pengamalan ajaran harus dibina oleh pendidik dan arena itu juga harus dievaluasi.
Tahap –tahap perencanaan evaluasi hasil belajar
Perencanaan evaluasi hasil belajar umumnya mencakup enam jenis kegiatan, yaitu:
Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi
Misalnya:
Dalam mata pelajaran Al-qur’an hadits
TIK: siswa dapat menuliskan ayat Al-qur’an yang mengharamkan babi
TIK:siswa dapat menerjemahkan ayat Al-qur’an yang mengharamkan babi

Dalam mata pelajaran SKI
TIK: siswa dapat menjelaskan sejarah kelahiran nabi Muhammad saw
Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi
Aspek kognitif; pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian.
Aspek afektif; menerima, menanggapi, menilai, mengelola, dan menghayati.
Aspek psikomotor; menirukan, memanipulasi, pengalamiahan dan artikulasi.
Memilih dan menentukan teknik yang akan digunakan dalam pelaksanaan evaluasi.
Teknik evaluasi dapat berupa teknik tes dan non tes.
Menyusun alat-alat pengukur yang akan digunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik
Menentukan tolak ukur atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar.
Frekuensi yang dimaksud adalah waktu yang dipersiapkan untuk menyelesaikan suatu soal. Misalnya siswa MI kelas 4 diberi 5 soal uraian tentang sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw, dalam waktu 20 menit, jadi diperkirakan waktu yang digunakan untuk mengerjakan satu soal adalah 4 menit.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Evaluasi dalam arti luas adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat keputusan.
Dalam merencanakan evaluasi dan penilaian terdapat tahap-tahap yang harus dilakukan yaitu; merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi,Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi, memilih dan menentukan teknik yang akan digunakan dalam pelaksanaan evaluasi, menyusun alat-alat pengukur yang akan digunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik, menentukan tolak ukur atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi, menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar.
Saran
Dalam suatu pembelajaran, evaluasi sangat penting untuk dilakukan karena untuk mengetahui keberhasilan atau tidaknya suatu tujuan pembelajaran. Seorang guru hendaknya harus menguasai tahap-tahap evaluasi agar tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

DAFTAR PUSTAKA
M.Ngalim Purwanto, 2008. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran, Bandung.
Tafsir Ahmad. 1997. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya
Zuhairi. 2012.Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran. Metro: STAIN Jurai Siwo Metro.
Ramayulis. 2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia
http://ozisfile.blogspot.com/2010/11/penilaian-pembelajaran-sejarah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s