makalah perkembangan emosi remaja

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan ini tepat pada waktunya. Melalui tugas kelompok ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Zusy Aryanti, S.Psi, MA selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Perkembangan yang telah memberi pengarahan, motivasi, serta ilmunya yang sangat berarti bagi penulis.
2. Teman-teman semester V yang telah membantu serta menjadi motivasi bagi penulis
Kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Dan semoga dengan selesainya tugas kelompok ini dapat bermanfaat bagi calon guru khususnya dan pembaca pada umumnya.

Metro,1 November 2012

Penulis

DAFTAR ISI
halaman
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Emosi
B. Bentuk-Bentuk dan Ciri-Ciri Emosi
C. Perkembangan Emosi Remaja
D. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja
E. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi Remaja.
F. Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya bagi Pendidikan
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa, sehingga pada masa ini emosi remaja tidak stabil Masa remaja adalah masa goncang yang terkenal dengan berkecamuknya perubahan-perubahan emosional. Perubahan-perubahan emosional pada remaja di pengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam individu itu sendiri dan faktor dari lingkungan.
Perkembangan emosi remaja merupakan suatu proses menuju kedewasaan. Pada usia remaja cenderung memperhatikan penampilannya dan mulai tertarik dengan lawan jenis sehingga perlu pengawasan dari orang tua agar perkembangan emosi anaknya mengarah pada emosi yang positif.
Seringnya terjadi penyimpangan dalam usia remaja di sekolah sehingga perlu upaya-upaya yang dilakukan dalam mengembangkan emosi remaja agar emosinya dapat terkontrol dan mengarah ke hal-hal yang positif sehingga dapat memperbaiki moral remaja.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas dapat dirumuskan suatu masalah, yaitu:
1. Apakah pengertian dari emosi?
2. Bagaimana bentuk-bentuk serta ciri-ciri emosi?
3. Bagaimana karakteristik dan perkembangan emosi remaja?
4. Apakah faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan emosi remaja?
5. Bagaimana upaya untuk mengembangkan emosi remaja dan implikasinya dalam pendidikan?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian dari emosi.
2. Mengetahui bentuk-bentuk serta ciri-ciri emosi.
3. Mengetahui karakteristik dan perkembangan emosi remaja.
4. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan emosi remaja.
5. Mengetahui upaya untuk mengembangkan emosi remaja dan implikasinya dalam pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Emosi
Banyak definisi mengenai emosi yang dikemukakan oleh para ahli. Istilah emosi menurut Sarlito Wirawan Sarwono dalam Syamsu Yusuf (2004: 115) adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkah lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas.
Sementara itu, Daniel Goleman dalam Ali dan Asrori (2010: 63), mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Menurut Agoes Dariyo (2007: 180) emosi merupakan bagian dari aspek afektif yang memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian dan perilaku seseorang yang bersifat fluktuatif dan dinamis.
Dari beberapa pengertian tentang emosi yang telah dikemukakan, penulis berasumsi bahwa emosi adalah keadaan diri seseorang yang berkaitan dengan perasaan dan memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian serta perilaku seseorang.
B. Bentuk-Bentuk dan Ciri-Ciri Emosi
Berbicara tentang emosi, ada beberapa emosi yang begitu kompleks yang telah diidentifikasi dan dikelompokkan oleh Daniel Goleman , yaitu sebagai berikut:
1. Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
2. Kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
3. Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, waspada , tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan fobia.
4. Kenikmatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali dan mania.
5. Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran dan kasih sayang.
6. Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
7. Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka dan mau muntah.
8. Malu, meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Menurut Syamsu Yusuf (2004) emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
1. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologi lainnya seperti pengamatan dan berfikir.
2. Bersifat fluktuatif (tidak tetap).
3. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indra.
C. Perkembangan Emosi Remaja
Masa remaja adalah masa goncang, yang terkenal dengan berkecamuknya perubahan-perubahan emosional. Perubahan itu disebabkan oleh perubahan jasmani, terutama perubahan hormon seks pada remaja itu. Akan tetapi, hasil penelitian lain membuktikan bahwa tidak hanya perubahan hormon seks saja yang mempengaruhi emosi remaja, karena perubahan hormon itu mencapai puncaknya pada permulaan masa remaja awal, sedangkan perkembangan emosi mencapai puncaknya pada periode remaja akhir. Oleh karena itu jelaslah bahwa kegoncangan emosi itu tidak disebabkan oleh perubahan hormon seks dalam tubuh saja, akan tetapi juga sebagai akibat dari suasana masyarakat dan keadaan ekonomi lingkungan remaja. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa pengaruh lingkungan lebih besar daripada pengaruh hormon.
Berdasarkan uaraian tersebut, penulis berasumsi bahwa pekembangan emosi remaja yang ditandai dengan masa goncang dipengaruhi oleh perubahan hormon seks dan lingkungan sekitar.
D. Karakteristik Perkembangan Remaja
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak sampai masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial dan emosional. Karena berada pada masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa, status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.
Secara garis besar, masa remaja dapat dibagi ke dalam empat periode , yaitu periode pra remaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik untuk setiap periode ada sebagaimana dipaparkan berikut ini.
1. Periode Praremaja
Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tanpa jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan respon mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng tetapi juga cepat merasa senang, atau bahkan meledak-ledak.
2. Periode Remaja Awal
Pada periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak, adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat semakin nyata, remaja seringkali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.
3. Periode Remaja Tengah
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka.
4. Periode Remaja Akhir
Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meski belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua dan masyarakat.

Menurut Zakiah Daradjat (1994: 35-36) bahwa perilaku remaja tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, pemikiran dan perhatiannya terpusat pada dirinya. Perhatian kepada diri dan penampilannya berlebihan. Remaja puteri lebih memperhatikan penampilan daripada remaja putera, sedangkan sikap remaja putera terhadap lawan jenis biasanya aktif, dan sikapnya kepada teman-teman sejenis juga positif akibat kebutuhan akan penerimaan sosial dan kebebasan. Remaja memerlukan pengertian mendalam tentang kebutuhan, bakat, kapasitas diri, sikap perkembangan dan tuntutan masa remaja yang dilaluinya, dan ia juga ingin mengetahui bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis.
Berdasarkan karakteristik dan ciri-ciri perkembangan emosi remaja yang telah dikemukakan di atas, penulis berasumsi bahwa pada masa remaja emosinya belum stabil karena masih dalam tahap peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Perkembangan emosi remaja juga ditandai dengan perubahan fisik yang sejalan dengan ketertarikannya kepada lawan jenis, sehingga mulai memperhatikan penampilannya agar diperhatikan oleh orang lain.

E. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan emosi Remaja
Perkembangan emosi seseorang pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya. Perkembangan emosi juga demikian halnya. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita melihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresif, rasa takut yang berlebihan, dan tingkah laku yang menyakiti diri sendiri. Sejumlah faktor yang memengaruhi perkembangan emosi remaja menurut Ali dan Asrori (2010: 69-71) adalah sebagai berikut:
1. Perubahan jasmani
Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perubahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
2. Perubahan pola interaksi dengan orang tua
Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang dengan penuh cinta. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja.
3. Perubahan interaksi dengan teman sebaya
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk semacam geng. Interaksi antaranggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi.
4. Perubahan pandangan luar
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut:
a. Sikap luar terhadap remaja sering tidak konsisten
b. Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan.
c. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggungjawab, yaitu dengan cara melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral.
5. Perubahan interaksi dengan sekolah
Pada masa anak-anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada orang tuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis apabila digunakan untuk pengembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif.

Berdasarkan faktor-faktor perkembangan emosi remaja yang telah dikemukakan di atas, penulis berasumsi bahwa pada dasarnya perkembangan emosi remaja dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Perubahan jasmani termasuk ke dalam faktor internal dan Perubahan pola interaksi dengan orang tua, Perubahan interaksi dengan teman sebaya, Perubahan pandangan luar, Perubahan interaksi dengan sekolah merupakan faktor eksternal.

F. Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya bagi Pendidikan
Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan emosional , salah satu di antaranya adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W.T. Grant Consortium dalam Ali dan Asrori (2010:73-74) tentang Unsur-unsur aktif program pencegahan, yaitu sebagai berikut.
1. Pengembangan keterampilan emosional
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan emosional individu adalah :
a. Mengidentifikasi dan memberi nama atau label perasaan,
b. Mengungkapkan perasaan,
c. Menilai intensitas perasaan,
d. Mengelola perasaan,
e. Menunda pemuasan,
f. Mengendalikan dorongan hati,
g. Mengurangi stress, dan
h. Memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan.
2. Pengembangan keterampilan kognitif
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan kognitif individu adalah sebagai berikut.
a. Belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri.
b. Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial.
c. Belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
d. Belajar memahami sudut pandang orang lain.
e. Belajar memahami sopan santun, yaitu perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak.
f. Belajar bersifat positif terhadap kehidupan.
g. Belajar mengembangkan kesadaran diri.
3. Pengembangan keterampilan perilaku
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan perilaku individu adalah sebagai berikut.
a. Mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal.
b. Mempelajari keterampilan komunikasi verbal
Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosional adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang di dalamnya terdapat materi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman dalam Ali dan Asrori (2010:74-75) yang kemudian diberi nama Self-Science Curiculum sebagaimana dipaparkan berikut ini.
a. Belajar mengembangkan kesadaran diri
Caranya adalah mengamati sendiri dan mengenali perasaan sendiri, menghimpun kosakata untuk mengungkapkan perasaan, serta memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan respons emosional.
b. Belajar mengambil keputusan pribadi
Caranya adalah mencermati tindakan-tindakan dan akibat-akibatnya, memahami apa yang menguasai suatu keputusan, pikiran, atau perasaan, serta menerapkan pemahaman ini ke masalah-masalah yang cukup berat, seperti masalah seks dan obat terlarang.
c. Belajar mengelola perasaan
Caranya adalah memantau pembicaraan sendiri untuk mengungkap pesan-pesan negatif yang terkandung di dalamnya, menyadari apa yang ada di balik perasaan, menemukan cara-cara untuk menangani rasa takut, cemas, amarah dan kesedihan.
d. Belajar menangani stress
Caranya adalah mempelajari pentingnya berolahraga, perenungan yang terarah, dan metode relaksasi.
e. Belajar berempati
Caranya adalah memahami perasaan dan masalah orang lain, berpikir dengan sudut pandang orang lain, serta menghargai perbedaan perasaan orang lain mengenai sesuatu.
f. Belajar berkomunikasi
Caranya adalah berbicara mengenai perasaan secara efektif, yaitu belajar menjadi pendengar dan penanya yang baik, membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan sesorang dengan reaksi atau penilaian sendiri tentang sesuatu, serta mengirimkan pesan dengan sopan dan bukannya mengumpat.
g. Belajar membuka diri
Caranya adalah menghargai keterbukaan dan membina kepercayaan dalam suatu hubungan serta mengetahui situasi yang aman untuk membicarakan tentang perasaan diri sendiri.
h. Belajar mengembangkan pemahaman
Caranya adalah mengidentifkasi pola-pola kehidupan emosional dan reaksi-reaksinya serta mengenali pola-pola serupa pada orang lain.
i. Belajar menerima diri sendiri
Caranya adalah merasa bangga dan memandang diri sendiri dari sisi positif, mengenali kekuatan dan kelemahan diri anda, serta belajar mampu untuk menertawakan diri anda sendiri.
j. Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
Caranya adalah belajar rela memikul tanggung jawab, mengenali akibat-akibat dari keputusan dan tindakan pribadi, serta menindaklanjuti komitmen yang telah dibuat dan disepakati.
k. Belajar mengembangkan ketegasan
Caranya adalah dengan mengungkapkan keprihatinan dan perasaan anda tanpa rasa marah atau berdiam diri.
l. Mempelajari dinamika kelompok
Caranya adalah mau bekerja sama, memahami kapan dan bagamana memimpin, serta memehami kapan harus mengikuti.
m. Belajar menyelesaikan konflik
Caranya adalah memahami bagaimana melakukan konfrontasi secara jujur dengan orang lain, orang tua atau guru, serta memahami contoh penyelesaian menang-menang (win-win solution) untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu perselisihan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pekembangan emosi remaja ditandai dengan masa goncang yang dipengaruhi oleh perubahan hormon seks dan lingkungan sekitar. Pada masa remaja emosinya belum stabil karena masih dalam tahap peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Perkembangan emosi remaja juga ditandai dengan perubahan fisik yang sejalan dengan ketertarikannya kepada lawan jenis, sehingga mulai memperhatikan penampilannya agar diperhatikan oleh orang lain.
Pada dasarnya perkembangan emosi remaja dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Perubahan jasmani termasuk ke dalam faktor internal dan Perubahan pola interaksi dengan orang tua, Perubahan interaksi dengan teman sebaya, Perubahan pandangan luar, Perubahan interaksi dengan sekolah merupakan faktor eksternal.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar mengembangkan : (a) keterampilan eosional, (b) keterampilan kognitif, (c) keterampilan perilaku.

B. Saran
Mengingat masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa sehingga emosinya belum stabil maka perlu melakukan upaya-upaya dalam mengembangkan emosinya agar lebih terarah kea rah yang positif.

DAFTAR PUSTAKA

Moh. Ali dan Moh. Asrori. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. PT. Bumi Aksara.

Zakiah Daradjat. 1994. Remaja Harapan dan Tantangan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset.

Syamsu Yusuf. 2010. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset.

Agoes Dariyo. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung. PT Refika Aditama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s